Selasa, 22 Juli 2014

Kebangkitan Islam pada Dunia? Butuh Peran Perempuan!

Peran perempuan dalam mengembalikan peradaban Islam pada dunia sangatlah besar. Untuk menjadikan Islam sebagai peradaban dunia diperlukan banyak orang yang tergerak hatinya maupun yang berpotensi dalam berbagai bidang. Kata lainnya adalah diperlukan banyak orang sukses dan orang yang berpotensi dimasa depan. Peran perempuan sangatlah berpengaruh, contohnya saja peran kesuksesan seorang anak dan seorang suami dalam cakupan keluarga. Didalam keluaga tugas utama perempuan (dalam hal ini seorang ibu) adalah untu mendidik, mengash sayangi, membimbing putra-putrinya. Tak masalah apapun profesinya, namun jika didalam rumah kewajiban para perempuan tersebut kembali untuk mendampingi puta-purtinya. Dengan pendampingan, pengarahan yang baik seorang anak akan tumbuh menjasi orang yang baik pula. Efek perempuan dalam kesuksesan seorang pria sangatlah besar. Sudah banyak contohnya, dibalik suami dan anak laki-laki yang sukses pastilah ada wanita dan sesosok ibu yang hebat.
Ketika saya bertanya-tanya dalam hati, ketika kepala ini berputar keras untuk memikirkan “Sebenarnya apa sih yang mendasari agar Islam bisa menjadi Peradaban Dunia lagi?” Ketika saya membaca buku sejarah atau mendengarkan orang ber”sejarah” sering saya dapati cerita mengenai seorang perempuan yang mendorong kesuksesan seorang legenda. Mulai dari ini, saya pun membenarkan perkataan bahwa dibalik suami yang hebat ada istri yang hebat. Ya walaupun saya belum mengalaminya, tapi cukup bukti yang secara tidak langsung membenarkan kalimat tersebut.
Sekarang, saya terbuka cakrawala mengenai luasnya peran perempuan dalam mengubah dunia, serta pikiran saya terbuka mengenai Negara Iran, yang digadang-gadang oleh media Iran adalah Negara yang berbahaya. Namun, setelah saya membaca buku ini, apa yang kebanyakan dikatakan media pun tidak benar, serta saya menyadari betapa besar tanggung jawab perempuan untuk mendidik orang-orang hebat masa depan untuk membangun peradaban Islam.
Judul bukunya “A Note From Tehran” ditulis oleh blogger favorit saya, Bu Dina Y. Sulaeman beserta kawan-kawan, ada Bu Sirikit Syah, dr. Zackya Yahya dan 10 perempuan hebat lainnya. Cerita ini dimulai saat 13 perempuan hebat ini ditunjuk sebagai delegasi Indonesia dalam acara “Women and Islamic Awakening Conference” yang diadakan oleh pemerintah Iran.  Kiprah perempuan dalam kemajuan Iran sangat terasa, kebebasan untuk berkarir tanpa melupakan peran ibu dan istri dirumah pun banyak di manfaatkan para perempuan Iran untuk membuktikan bahwa perempuan itu bisa, tidak kalah dalam urusan berkarir dengan pria. Kesetaraan gender  yang boleh diterapkan adalah hanya soal kompetisi dalam belajar, berkarir, bahwa tak hanya para pria yang mampu menoreh prestasi namun para wanita pun mampu, bisa. Namun, jika kesetaraan gender tersebut dibawa ke malah agama tentunya sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Kembali lagi ke seminar tersebut. Ada kejutan besar saat pembukaan seminar, kedatangan san Presiden Iran, Ahmadinejad yang selalu digambarkan negative oleh media-media barat maupun Indonesia. Beliau member sambutan dan kata pembukaan mengenai pentingnya seminar ini yang menyangkut perempuan. Dalam pidatonya, “Kebangkitan ini tidak hanya perlu dilakukan oleh kaum Muslimin, tapi oleh semua umat manusia karena Tuhan menciptakan semua manusia setara, tidak boleh ada yang menindas dan tidak boleh ada yang tertidas’’. Beliau juga menegaskan betapa pentingnya posisi perempuan. Kunci utama perubahan nasib manusia yang tertindas adalah kebangkitan si manusia itu sendiri. Tanpa kebangkitan, tidak akan ada perubahan apa pun bagi dirinya. Dalam proses kebangkitan ini, peran perempuanlah yang sangat besar, “Apapun yang ada, semua berasal dari pangkuan dan pelukan perempuan. Lihatlah setiap laki-laki yang sampai ke puncak kemanusiaan, pastilah berutang budi kepada ibunya. Sangat mustahil dalam sebuah masyarakat akan terjadi perubahan sosial bila perempuan tidak dilibatkan. Ketika seorang peempan bergerak pastilah suami dan anak-anaknya ikut bergerak. Kebangkitan Islam hanya bisa diraih jika seluruh muslimah sadar dimana posisi yang tepat dan kembali ke posisi itu. Posisi utama perempuan adalah sebagai pendidik generasi muda. Ibu yang cerdas, beriman dan sadar akan tugas utamanya akan melahirkangenerasi-generasi  pejuang yang akan memperbaiki kondisi umat Islam. Kami melihat ini di Iran dan kini kami pun menyaksikan sedang terjadi didunia.
Iya memang terbukti Iran mampu menjadi Negara yang mandiri. Setelah terjadi deklarasi revolusi Islam pada tahun 1979 setelah sekian lama mengalami penindasan pada masa Syah Mohammad Reza Pahlevi yang  memperkaya istana tanpa memperlakukan nasib rakyat. Pada tahun 1979, Imam Khomeini dan pasukan tidak rela bangsa dan rakyatnya menderita. Sang Imam ingin menjadikan Negara tersebut berbasis Islam. Imam Khomeini untuk melawan rezim pahlevi sempat merasakan pengalaman diasingkan ke Irak lalu dipindahkan ke Prancis. Namun, semangat sang Imam tidak padam, sang Imam tetap berjuang hingga meraih kemenangan pada tahun 1979. Pahlevi pun meninggalkan Negara Iran dan kabur ke Negara lain. Keputusan rakyat iran untuk mejadikan Negara berabsis Islam sangat di tolak oleh Barat (Amerika dan UK), sehingga Barat melakukan embargo ke Negara Iran serta menyebarluaskan fitnah bahwa Iran sedang merancang senjata kimia yang hingga saat ini tidak terbukti. Iran di embargo oleh Barat, tidak ada suplai makanan, kebutuhan sehari-hari, obat serta kondisi ekonomi Negara yang semankin merosot. Namun, Iran tidak menyerah, tidak menyerahkan diri kepada Barat untuk meminta bantuan. Tetapi, Iran berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, maka muncullah produk-produk dalam negri yang benar-benar menguntungkan Negara sendiri serta makin membuat garam Barat. Kini, obat-obatan dari Iran pun terkenal bagus serta senjata yang diproduksi tak kalah hebat dari Amerika.
 Apa hubungannya dengan peran perempuan? Coba bayangkan jika disaat krisis ekonomi, sang perempuan terus menuntut kebutuhan financial, justru tidak mendukung perjuangan sang pria, mungkin Iran akan sama saja dengan Indonesia, menjadi konsumen Barat. Nah, disaat seperti itu peran perempuan untuk memberi semangat, kasih sayang, sabar mengadapi, serta memanage keuangan dan waktu agar tetap bisa hidup. Ide-ide kreatif untuk menghidupi keluarga akan muncul. Disini dapat di simpulkan bahwa untuk kemajuan Islam, untuk menjadikan Islam sebagai Peradaban Barat memang perlu peran perempuan. Dimulai dari keluarga, Negara terkecil yang akan dididik oleh para perempuan-perempuan hebat di seluruh dunia. Jika semua perempuan dunia berhasil mendidik para generasi pejuang maka tunggulah kesuksesan Islam yang akan menjadi Peradaban Dunia lagi, setelah sekian lama diambil oleh barat. Inilah yang membuat takut Barat, perempuan dan anak kecil. Mereka tahu bahwa harapan umat Islam bergantung pada perempuan dan anak-anak. Maka, tak heran jika dinegara-negara berkonflik yang jadi sasaran tembak adalah permpuan dan anak kecil. Konsep ini bertolak belakang dengan islam, jika islam berperang tak boleh melukai perempuan dan anak kecil. Ini kok malah sebaliknya. Marilah para perempuan bangkit, jangan terbelengu dengan lulus sekolah kerja, nikah, banyak duit. Tetapi mulailah berperan aktif dalam mendukung peradaban Islam pada dunia. Banyak belajar, membaca, menulis, care, terbuka hatinya agar kelak bisa mendidik generasi penerus. Karena pendidian pertama yang diperoleh anak kecil adalah dari seorang Ibu, Ibulah yang akan mengarahkan san anak akan menjadi apa.
Nah untu Indonesia, harusnya juga mampu untu melakukan revolusi Islam. Iran saja mampu mengapa Indonesia tidak? Semoga Indonesia bisa menjadi Negara yang islami, setelah begitu banyak perempuan-perempuan yang tersadar. Inonesia bisa, duniapun akan bisa juga! Perempuan-perempuan seluruh dunia berpegangan tangan untuk mewujudkan satu tujuan yang sama yaitu Kebangkitan Islam, menajdika Islam kembali menjadi Peradaban Dunia. Tidak ada yang mustahil. Allah bersama orang yang selalu berusaha. Kebangkitan Islam akan membuat ciut Barat dan Israel, Negara-negara yg konflikpun akan damai. Duniapun akan damai. Bismillah, luruskan niat. Semoga banyak perempuan yang tergerak hatinya. Perempuan harus memiliki ilmu yang tinggi, ingat akan tugas utamanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar