Peran perempuan dalam mengembalikan peradaban Islam pada
dunia sangatlah besar. Untuk menjadikan Islam sebagai peradaban dunia
diperlukan banyak orang yang tergerak hatinya maupun yang berpotensi dalam
berbagai bidang. Kata lainnya adalah diperlukan banyak orang sukses dan orang
yang berpotensi dimasa depan. Peran perempuan sangatlah berpengaruh, contohnya
saja peran kesuksesan seorang anak dan seorang suami dalam cakupan keluarga.
Didalam keluaga tugas utama perempuan (dalam hal ini seorang ibu) adalah untu
mendidik, mengash sayangi, membimbing putra-putrinya. Tak masalah apapun
profesinya, namun jika didalam rumah kewajiban para perempuan tersebut kembali
untuk mendampingi puta-purtinya. Dengan pendampingan, pengarahan yang baik
seorang anak akan tumbuh menjasi orang yang baik pula. Efek perempuan dalam
kesuksesan seorang pria sangatlah besar. Sudah banyak contohnya, dibalik suami
dan anak laki-laki yang sukses pastilah ada wanita dan sesosok ibu yang hebat.
Ketika saya bertanya-tanya dalam hati, ketika kepala ini
berputar keras untuk memikirkan “Sebenarnya apa sih yang mendasari agar Islam
bisa menjadi Peradaban Dunia lagi?” Ketika saya membaca buku sejarah atau
mendengarkan orang ber”sejarah” sering saya dapati cerita mengenai seorang
perempuan yang mendorong kesuksesan seorang legenda. Mulai dari ini, saya pun
membenarkan perkataan bahwa dibalik suami yang hebat ada istri yang hebat. Ya
walaupun saya belum mengalaminya, tapi cukup bukti yang secara tidak langsung
membenarkan kalimat tersebut.
Sekarang, saya terbuka cakrawala mengenai luasnya peran
perempuan dalam mengubah dunia, serta pikiran saya terbuka mengenai Negara
Iran, yang digadang-gadang oleh media Iran adalah Negara yang berbahaya. Namun,
setelah saya membaca buku ini, apa yang kebanyakan dikatakan media pun tidak
benar, serta saya menyadari betapa besar tanggung jawab perempuan untuk
mendidik orang-orang hebat masa depan untuk membangun peradaban Islam.
Judul bukunya “A Note From Tehran” ditulis oleh blogger
favorit saya, Bu Dina Y. Sulaeman beserta kawan-kawan, ada Bu Sirikit Syah, dr.
Zackya Yahya dan 10 perempuan hebat lainnya. Cerita ini dimulai saat 13
perempuan hebat ini ditunjuk sebagai delegasi Indonesia dalam acara “Women and
Islamic Awakening Conference” yang diadakan oleh pemerintah Iran. Kiprah perempuan dalam kemajuan Iran sangat
terasa, kebebasan untuk berkarir tanpa melupakan peran ibu dan istri dirumah
pun banyak di manfaatkan para perempuan Iran untuk membuktikan bahwa perempuan
itu bisa, tidak kalah dalam urusan berkarir dengan pria. Kesetaraan gender yang boleh diterapkan adalah hanya soal
kompetisi dalam belajar, berkarir, bahwa tak hanya para pria yang mampu menoreh
prestasi namun para wanita pun mampu, bisa. Namun, jika kesetaraan gender
tersebut dibawa ke malah agama tentunya sangat bertolak belakang dengan ajaran
Islam. Kembali lagi ke seminar tersebut. Ada kejutan besar saat pembukaan
seminar, kedatangan san Presiden Iran, Ahmadinejad yang selalu digambarkan
negative oleh media-media barat maupun Indonesia. Beliau member sambutan dan
kata pembukaan mengenai pentingnya seminar ini yang menyangkut perempuan. Dalam
pidatonya, “Kebangkitan ini tidak hanya perlu dilakukan oleh kaum Muslimin,
tapi oleh semua umat manusia karena Tuhan menciptakan semua manusia setara, tidak
boleh ada yang menindas dan tidak boleh ada yang tertidas’’. Beliau juga
menegaskan betapa pentingnya posisi perempuan. Kunci utama perubahan nasib
manusia yang tertindas adalah kebangkitan si manusia itu sendiri. Tanpa
kebangkitan, tidak akan ada perubahan apa pun bagi dirinya. Dalam proses
kebangkitan ini, peran perempuanlah yang sangat besar, “Apapun yang ada, semua
berasal dari pangkuan dan pelukan perempuan. Lihatlah setiap laki-laki yang
sampai ke puncak kemanusiaan, pastilah berutang budi kepada ibunya. Sangat
mustahil dalam sebuah masyarakat akan terjadi perubahan sosial bila perempuan
tidak dilibatkan. Ketika seorang peempan bergerak pastilah suami dan
anak-anaknya ikut bergerak. Kebangkitan Islam hanya bisa diraih jika seluruh
muslimah sadar dimana posisi yang tepat dan kembali ke posisi itu. Posisi utama
perempuan adalah sebagai pendidik generasi muda. Ibu yang cerdas, beriman dan
sadar akan tugas utamanya akan melahirkangenerasi-generasi pejuang yang akan memperbaiki kondisi umat
Islam. Kami melihat ini di Iran dan kini kami pun menyaksikan sedang terjadi
didunia.
Iya memang terbukti Iran mampu menjadi Negara yang mandiri.
Setelah terjadi deklarasi revolusi Islam pada tahun 1979 setelah sekian lama
mengalami penindasan pada masa Syah Mohammad Reza Pahlevi yang memperkaya istana tanpa memperlakukan nasib
rakyat. Pada tahun 1979, Imam Khomeini dan pasukan tidak rela bangsa dan
rakyatnya menderita. Sang Imam ingin menjadikan Negara tersebut berbasis Islam.
Imam Khomeini untuk melawan rezim pahlevi sempat merasakan pengalaman
diasingkan ke Irak lalu dipindahkan ke Prancis. Namun, semangat sang Imam tidak
padam, sang Imam tetap berjuang hingga meraih kemenangan pada tahun 1979.
Pahlevi pun meninggalkan Negara Iran dan kabur ke Negara lain. Keputusan rakyat
iran untuk mejadikan Negara berabsis Islam sangat di tolak oleh Barat (Amerika
dan UK), sehingga Barat melakukan embargo ke Negara Iran serta menyebarluaskan
fitnah bahwa Iran sedang merancang senjata kimia yang hingga saat ini tidak
terbukti. Iran di embargo oleh Barat, tidak ada suplai makanan, kebutuhan
sehari-hari, obat serta kondisi ekonomi Negara yang semankin merosot. Namun,
Iran tidak menyerah, tidak menyerahkan diri kepada Barat untuk meminta bantuan.
Tetapi, Iran berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, maka muncullah
produk-produk dalam negri yang benar-benar menguntungkan Negara sendiri serta
makin membuat garam Barat. Kini, obat-obatan dari Iran pun terkenal bagus serta
senjata yang diproduksi tak kalah hebat dari Amerika.
Apa hubungannya
dengan peran perempuan? Coba bayangkan jika disaat krisis ekonomi, sang
perempuan terus menuntut kebutuhan financial, justru tidak mendukung perjuangan
sang pria, mungkin Iran akan sama saja dengan Indonesia, menjadi konsumen
Barat. Nah, disaat seperti itu peran perempuan untuk memberi semangat, kasih
sayang, sabar mengadapi, serta memanage keuangan dan waktu agar tetap bisa
hidup. Ide-ide kreatif untuk menghidupi keluarga akan muncul. Disini dapat di
simpulkan bahwa untuk kemajuan Islam, untuk menjadikan Islam sebagai Peradaban
Barat memang perlu peran perempuan. Dimulai dari keluarga, Negara terkecil yang
akan dididik oleh para perempuan-perempuan hebat di seluruh dunia. Jika semua
perempuan dunia berhasil mendidik para generasi pejuang maka tunggulah
kesuksesan Islam yang akan menjadi Peradaban Dunia lagi, setelah sekian lama
diambil oleh barat. Inilah yang membuat takut Barat, perempuan dan anak kecil.
Mereka tahu bahwa harapan umat Islam bergantung pada perempuan dan anak-anak.
Maka, tak heran jika dinegara-negara berkonflik yang jadi sasaran tembak adalah
permpuan dan anak kecil. Konsep ini bertolak belakang dengan islam, jika islam
berperang tak boleh melukai perempuan dan anak kecil. Ini kok malah sebaliknya.
Marilah para perempuan bangkit, jangan terbelengu dengan lulus sekolah kerja,
nikah, banyak duit. Tetapi mulailah berperan aktif dalam mendukung peradaban
Islam pada dunia. Banyak belajar, membaca, menulis, care, terbuka hatinya agar
kelak bisa mendidik generasi penerus. Karena pendidian pertama yang diperoleh
anak kecil adalah dari seorang Ibu, Ibulah yang akan mengarahkan san anak akan
menjadi apa.
Nah untu Indonesia, harusnya juga mampu untu melakukan
revolusi Islam. Iran saja mampu mengapa Indonesia tidak? Semoga Indonesia bisa
menjadi Negara yang islami, setelah begitu banyak perempuan-perempuan yang
tersadar. Inonesia bisa, duniapun akan bisa juga! Perempuan-perempuan seluruh
dunia berpegangan tangan untuk mewujudkan satu tujuan yang sama yaitu
Kebangkitan Islam, menajdika Islam kembali menjadi Peradaban Dunia. Tidak ada
yang mustahil. Allah bersama orang yang selalu berusaha. Kebangkitan Islam akan
membuat ciut Barat dan Israel, Negara-negara yg konflikpun akan damai. Duniapun
akan damai. Bismillah, luruskan niat. Semoga banyak perempuan yang tergerak
hatinya. Perempuan harus memiliki ilmu yang tinggi, ingat akan tugas utamanya.