Selasa, 22 Juli 2014

Kebangkitan Islam pada Dunia? Butuh Peran Perempuan!

Peran perempuan dalam mengembalikan peradaban Islam pada dunia sangatlah besar. Untuk menjadikan Islam sebagai peradaban dunia diperlukan banyak orang yang tergerak hatinya maupun yang berpotensi dalam berbagai bidang. Kata lainnya adalah diperlukan banyak orang sukses dan orang yang berpotensi dimasa depan. Peran perempuan sangatlah berpengaruh, contohnya saja peran kesuksesan seorang anak dan seorang suami dalam cakupan keluarga. Didalam keluaga tugas utama perempuan (dalam hal ini seorang ibu) adalah untu mendidik, mengash sayangi, membimbing putra-putrinya. Tak masalah apapun profesinya, namun jika didalam rumah kewajiban para perempuan tersebut kembali untuk mendampingi puta-purtinya. Dengan pendampingan, pengarahan yang baik seorang anak akan tumbuh menjasi orang yang baik pula. Efek perempuan dalam kesuksesan seorang pria sangatlah besar. Sudah banyak contohnya, dibalik suami dan anak laki-laki yang sukses pastilah ada wanita dan sesosok ibu yang hebat.
Ketika saya bertanya-tanya dalam hati, ketika kepala ini berputar keras untuk memikirkan “Sebenarnya apa sih yang mendasari agar Islam bisa menjadi Peradaban Dunia lagi?” Ketika saya membaca buku sejarah atau mendengarkan orang ber”sejarah” sering saya dapati cerita mengenai seorang perempuan yang mendorong kesuksesan seorang legenda. Mulai dari ini, saya pun membenarkan perkataan bahwa dibalik suami yang hebat ada istri yang hebat. Ya walaupun saya belum mengalaminya, tapi cukup bukti yang secara tidak langsung membenarkan kalimat tersebut.
Sekarang, saya terbuka cakrawala mengenai luasnya peran perempuan dalam mengubah dunia, serta pikiran saya terbuka mengenai Negara Iran, yang digadang-gadang oleh media Iran adalah Negara yang berbahaya. Namun, setelah saya membaca buku ini, apa yang kebanyakan dikatakan media pun tidak benar, serta saya menyadari betapa besar tanggung jawab perempuan untuk mendidik orang-orang hebat masa depan untuk membangun peradaban Islam.
Judul bukunya “A Note From Tehran” ditulis oleh blogger favorit saya, Bu Dina Y. Sulaeman beserta kawan-kawan, ada Bu Sirikit Syah, dr. Zackya Yahya dan 10 perempuan hebat lainnya. Cerita ini dimulai saat 13 perempuan hebat ini ditunjuk sebagai delegasi Indonesia dalam acara “Women and Islamic Awakening Conference” yang diadakan oleh pemerintah Iran.  Kiprah perempuan dalam kemajuan Iran sangat terasa, kebebasan untuk berkarir tanpa melupakan peran ibu dan istri dirumah pun banyak di manfaatkan para perempuan Iran untuk membuktikan bahwa perempuan itu bisa, tidak kalah dalam urusan berkarir dengan pria. Kesetaraan gender  yang boleh diterapkan adalah hanya soal kompetisi dalam belajar, berkarir, bahwa tak hanya para pria yang mampu menoreh prestasi namun para wanita pun mampu, bisa. Namun, jika kesetaraan gender tersebut dibawa ke malah agama tentunya sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Kembali lagi ke seminar tersebut. Ada kejutan besar saat pembukaan seminar, kedatangan san Presiden Iran, Ahmadinejad yang selalu digambarkan negative oleh media-media barat maupun Indonesia. Beliau member sambutan dan kata pembukaan mengenai pentingnya seminar ini yang menyangkut perempuan. Dalam pidatonya, “Kebangkitan ini tidak hanya perlu dilakukan oleh kaum Muslimin, tapi oleh semua umat manusia karena Tuhan menciptakan semua manusia setara, tidak boleh ada yang menindas dan tidak boleh ada yang tertidas’’. Beliau juga menegaskan betapa pentingnya posisi perempuan. Kunci utama perubahan nasib manusia yang tertindas adalah kebangkitan si manusia itu sendiri. Tanpa kebangkitan, tidak akan ada perubahan apa pun bagi dirinya. Dalam proses kebangkitan ini, peran perempuanlah yang sangat besar, “Apapun yang ada, semua berasal dari pangkuan dan pelukan perempuan. Lihatlah setiap laki-laki yang sampai ke puncak kemanusiaan, pastilah berutang budi kepada ibunya. Sangat mustahil dalam sebuah masyarakat akan terjadi perubahan sosial bila perempuan tidak dilibatkan. Ketika seorang peempan bergerak pastilah suami dan anak-anaknya ikut bergerak. Kebangkitan Islam hanya bisa diraih jika seluruh muslimah sadar dimana posisi yang tepat dan kembali ke posisi itu. Posisi utama perempuan adalah sebagai pendidik generasi muda. Ibu yang cerdas, beriman dan sadar akan tugas utamanya akan melahirkangenerasi-generasi  pejuang yang akan memperbaiki kondisi umat Islam. Kami melihat ini di Iran dan kini kami pun menyaksikan sedang terjadi didunia.
Iya memang terbukti Iran mampu menjadi Negara yang mandiri. Setelah terjadi deklarasi revolusi Islam pada tahun 1979 setelah sekian lama mengalami penindasan pada masa Syah Mohammad Reza Pahlevi yang  memperkaya istana tanpa memperlakukan nasib rakyat. Pada tahun 1979, Imam Khomeini dan pasukan tidak rela bangsa dan rakyatnya menderita. Sang Imam ingin menjadikan Negara tersebut berbasis Islam. Imam Khomeini untuk melawan rezim pahlevi sempat merasakan pengalaman diasingkan ke Irak lalu dipindahkan ke Prancis. Namun, semangat sang Imam tidak padam, sang Imam tetap berjuang hingga meraih kemenangan pada tahun 1979. Pahlevi pun meninggalkan Negara Iran dan kabur ke Negara lain. Keputusan rakyat iran untuk mejadikan Negara berabsis Islam sangat di tolak oleh Barat (Amerika dan UK), sehingga Barat melakukan embargo ke Negara Iran serta menyebarluaskan fitnah bahwa Iran sedang merancang senjata kimia yang hingga saat ini tidak terbukti. Iran di embargo oleh Barat, tidak ada suplai makanan, kebutuhan sehari-hari, obat serta kondisi ekonomi Negara yang semankin merosot. Namun, Iran tidak menyerah, tidak menyerahkan diri kepada Barat untuk meminta bantuan. Tetapi, Iran berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, maka muncullah produk-produk dalam negri yang benar-benar menguntungkan Negara sendiri serta makin membuat garam Barat. Kini, obat-obatan dari Iran pun terkenal bagus serta senjata yang diproduksi tak kalah hebat dari Amerika.
 Apa hubungannya dengan peran perempuan? Coba bayangkan jika disaat krisis ekonomi, sang perempuan terus menuntut kebutuhan financial, justru tidak mendukung perjuangan sang pria, mungkin Iran akan sama saja dengan Indonesia, menjadi konsumen Barat. Nah, disaat seperti itu peran perempuan untuk memberi semangat, kasih sayang, sabar mengadapi, serta memanage keuangan dan waktu agar tetap bisa hidup. Ide-ide kreatif untuk menghidupi keluarga akan muncul. Disini dapat di simpulkan bahwa untuk kemajuan Islam, untuk menjadikan Islam sebagai Peradaban Barat memang perlu peran perempuan. Dimulai dari keluarga, Negara terkecil yang akan dididik oleh para perempuan-perempuan hebat di seluruh dunia. Jika semua perempuan dunia berhasil mendidik para generasi pejuang maka tunggulah kesuksesan Islam yang akan menjadi Peradaban Dunia lagi, setelah sekian lama diambil oleh barat. Inilah yang membuat takut Barat, perempuan dan anak kecil. Mereka tahu bahwa harapan umat Islam bergantung pada perempuan dan anak-anak. Maka, tak heran jika dinegara-negara berkonflik yang jadi sasaran tembak adalah permpuan dan anak kecil. Konsep ini bertolak belakang dengan islam, jika islam berperang tak boleh melukai perempuan dan anak kecil. Ini kok malah sebaliknya. Marilah para perempuan bangkit, jangan terbelengu dengan lulus sekolah kerja, nikah, banyak duit. Tetapi mulailah berperan aktif dalam mendukung peradaban Islam pada dunia. Banyak belajar, membaca, menulis, care, terbuka hatinya agar kelak bisa mendidik generasi penerus. Karena pendidian pertama yang diperoleh anak kecil adalah dari seorang Ibu, Ibulah yang akan mengarahkan san anak akan menjadi apa.
Nah untu Indonesia, harusnya juga mampu untu melakukan revolusi Islam. Iran saja mampu mengapa Indonesia tidak? Semoga Indonesia bisa menjadi Negara yang islami, setelah begitu banyak perempuan-perempuan yang tersadar. Inonesia bisa, duniapun akan bisa juga! Perempuan-perempuan seluruh dunia berpegangan tangan untuk mewujudkan satu tujuan yang sama yaitu Kebangkitan Islam, menajdika Islam kembali menjadi Peradaban Dunia. Tidak ada yang mustahil. Allah bersama orang yang selalu berusaha. Kebangkitan Islam akan membuat ciut Barat dan Israel, Negara-negara yg konflikpun akan damai. Duniapun akan damai. Bismillah, luruskan niat. Semoga banyak perempuan yang tergerak hatinya. Perempuan harus memiliki ilmu yang tinggi, ingat akan tugas utamanya.



Rabu, 18 Juni 2014

Selalu di zona nyaman atau berani berfikir dan bertindak out of the box?

Oleh : Aditya Evi N (FKG UMS)
Tugas. Praktikum. Kuliah. Skill lab. Tutorial. Itu adalah segelintir kegiatan mahasiswa kedokteran gigi pada umumnya. Jadwal yang (sebenarnya tidak terlalu) padat membuat mahasiswa susah (bagi sebgaian orang) untuk melakukan hal-hal lain diluar agenda kuliah. Pada kenyataannya, jadwal yang dimiliki oleh masing-masing unviversitas tidak sepadat apa yang kita bayangkan. Hanya saja mahasiswa pada umumnya membuat dirinya tidak berkembang, membuat dirinya terbelenggu dengan aktivitas tersebut. Nah, disini permasalahan mulai muncul. Banyak mahasiswa yang acuh akan kegiatan mahasiswa, sosial atau kemanusiaan, politik, isu-isu dunia dan berita-berita lainnya. Dibenaknya hanya terlintas belajar, ujian, nilai bagus, lulus dan dapat pekerjaan. Sesungguhnya kelak, kehidupan tak hanya berputar pada rute tadi, namun akan banyak permasalahan yang tak terduga yang akan kita alami. Kebanyakan alasan mahasiswa menjadi apatis adalah tidak bisa mengatur waktu. Jika tidak dibiasakan sejak sekarang mengenai urusan me-manage waktu kapan lagi akan belajar. Saat sudah dewasa? Dalam berkeluarga saja urusan yang akan dihadapti tidak hanya satu, dua persoalan, namun banyak persoalan, bahkan diwaktu yang bebarengan. Mahasiswa yang dulunya aktif pastinya tidak akan kaget dengan situasi seperti itu, justru sudah mahir untuk membagi waktu, untuk memprioritaskan mana yang terpenting mana yang mendesak. Itulah salah satu keuntungan menjadi mahasiswa yang aktif. Mengenai mempersempit pandangan, seorang mahasiswa yang hanya berkutat pada jurnal kedokteran, buku kedokteran, materi kedokteran akan berbeda hasilnya disbanding dengan mahasiswa yang kritis dengan isu-isu yang ada disekitarnya. Disaat mahasiswa tersebut terjun langsung ke dunia yang sesunggunhya, tidak akan kaget, akan mudah bersosialisasi dan beradaptasi karena topic dan wawasan yang dimiliki cukup banyak. Jadi, akan semakin percaya diri untuk terjun ke masyarakat langsung, berbaur dengan masyarakat untuk membicarakan atau bertukar pikiran dan disini nanti sendirinya akan terbentuk jaringan-jaringan yang luas. Banyak sekali manfaat yang akan didapat. Nah, sekarang waktunya untuk bertansformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Mau jadi orang yang selalu dalam zona nyaman (terbelenggu dengan kegiatan kedokteran saja)  atau mau jadi orang yang berfikir dan bertindak “out of the box”?


Selasa, 17 Juni 2014

Hal-hal yang harus diketahi oleh orang Islam

Setelah kebingungan melanda di dalam kepala saya, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan beberapa orang hebat yaitu guru-guru saya, Bu Andari dan Kak Musa. Di acara rutin leadership kali ini kami membahas mengenai “Bagaimana Menuntut Ilmu yang Benar?” yang pada akhirnya ditutup dengan kisah “Hadist Jibril” yang sudah tidak asing lagi tentunya.
                Diawali dengan kisah ilmuan yang terkenal yaitu Imam Ghazali. Beliau hidup disaat terjadi gempuran dari mongol. Di saat situasi Negara yang sedang tidak stabil beliau justru menyempatkan diri untuk selalu menuntut ilmu, menyendiri (mengasingkan diri) dan berpikir hingga akhirnya beliau menjadi pakar fiqih, akhlak dan filsafat. Ada satu perkataan beliau yang sangat terkenal namun saya telat mencatat jd maaf hehehee. Cara menuntut ilmu yang benar, pastinya banyak dipaparkan di dalam Al-Qyran dan Hadist namun kali ini kami mengambil refrensi dari QS. Al Kahfi ayat 60 mengenai Nambi Musa dan Khadir. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Kahfi ayat 60 yang artinya “ Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada pembantunya, Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai0 bertahun-tahun.” Dalam ayat ini memamparkan bahwa tekad Nabi Musa untuk menuntut ilmu (menemuai Khadir, orang shaleh) sangatlah besar, “Saya tidak akan berhenti berjalan”. Singkat cerita akhirnya Nabi Musa bertemu dengan Khadir. Ada kontrak belajar diantara keduanya yaitu tidak boleh bertanya sebelum apa yang dilakukan Khadir selesai semua. Diayat selanjutnya dikisahkan bahwa Nabi Musa tidak bisa memenuhi perjanjiannya, bahwa beliau selalu bertanya disaat Khadir menjalankan tugasnya. Dapat disimpulkan bahwa “Sebagai seorang penuntutu ilmu itu harus sabar (sabar menjalani tahapan, proses”. Di setiap ada orang yang pintar diatasnya ada orang yang berilmu. Diatas orang yang berilmu ada Yang Maha Mengetahui. Jadi, dalam proses belajar kita juga tidak boleh cepat puas dan tidak boleh sombong. Nah, dapat dirumuskan, Belajar yang Ideal itu Harus Memenuhi Rukun Ilmu, yaitu:
1.       1. Murid
2.       2.Guru
3.       3. Buku, kitab, refrensi, buku pegangan
4.       4. Metode, kurikulum, manhaj
5.       Lingkungan yang Ilmiah (ex: gedung sekolah)
Dahulu di zaman Rasulullah SAW pelajaran yang pertama kali ditanamkan adalah penguatan aqidah. Muridnya adalah para sahabat, Gurunya Rasulullah sendiri, Kitabnya AlQuran, Metodenya berhijrah (saya kurang tahu) dan Lingkungannya di masjid dan dirumah para sahabat di Mekkah. Setelah penguatan aqidah beliau dan para sahabatnya berhijrah ke Madinah untuk penanaman atau pembelajaran mengenai pembangunan Negara. Ditekankan bahwa, “Belajar itu harus memiliki SISTEM”
                Ada hal-hal yang orang Islam harus Tahu, diringkas dari Hadist Jibril. Dari Umar bin Khatb r.a berkata: Pada suatu hari kami sedang bersama Rsulullah SAW muncullah seseorang yang berpakaian putih dan berambut hitam pekat, tidak terlihat bekas perjalanan darinya, tidak ada satupun dari kamu yang mengetahuinya. Sehingga ia duduk dihadapan Nabi kemudian menyandarkan kedua lutunya kepada lutut Rasulullah dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas pahanya. Ia berkata, “wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang ISLAM” Maka Rasulullah bersabda, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan, berhaji ke Baitulah kalau engkau mampu menjalankannya” Ia  berkata, :engkau benar”. Kami pun terkejut karena ia bertanya (kepada Nabi) dan membenarkannya. Ia berkata, “Beritahu aku tentang IMAN!”. Beliau bersabda, Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikyanNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir dan takdir baik dan buruk”. Ia berkata. “Engkau benar”. Ia berkata, “Beritahu kepadaku tentang IHSAN!”. Beliau bersabda, “Engkau menyembah Allah seola-olah engkau melihatNya, kalaupun engkau tidak dapat melihatNya, maka sesungguhnya Ia melihatmu.” Ia berkata, “beritahu kepadaku tentang HARI KIAMAT!” Beliau bersabda, “Yang ditanya tidak lebih tau daripada yang bertanya”. Ia berkata, “Beritahu kepadaku tanda-tandanya!”. Beliau bersabda, “aka nada budak yang melahirkan majikannya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bagunan”. Kemudia orang itu pergi, aku tidak bertanya tentang orang itu untuk beberapa saat. Kemudian Rasulullah bersabda kepadaku, “Apakah engkau tahu siapa orang itu wahai Umar?” Aku pun berkata, “Allah dan RasulNya mengetahui”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia itu Jibril, mendatangi kalian untuk mengajarkan agama kalian”
Hadist  Jibril terjadi di akhir masa kenabian (seperti menyimpulkan apa yang harus diketahui). Berasarkan Hadist diatas, hal-hal yang perlu diketahu oleh orang Islam adalah,
1.      1. ISLAM, menjadi ilmu FIQIH. Fiqih isinya tentang ibadah, dari bersuci, bermuamalah hingga memilih pemimpin. Ditekankan dalam memilih pemimpin itu yang penting untuk dimiliki seorang pemimpin adalah KAFA’AH yaitu KEMAMPUAN.
2.     2.  IMAN, menjadi ilmu AQIDAH, ilmu tauhid. Di pelajari mengenai aqidah rububiyah, aqidah uluhiyah, aqidah asma wa sifat.
3.      3. IHSAN, menjadi ilmu AKHLAK. Dimulai dengan, pentingnya menumbuhkan sikap dan rasa IKHLAS.
4.      4. HARI KIAMAT, disini kita perlu mengetahui tanda-tanda kiamat.


*Nah, disaat sesi pertanyaan saya mempertanyakan mengenai cerita kakak kelas saya yang seorang dai terperosok menjadi seorang misioanris, Apakah benar karena kebanyakan Ilmu? Guru saya menjawab ada banyakfaktor yang menyebabkan dia menjadi terperosok. Diusut dari dimana dia dulu belajar agama, apakah sudah benra di pusatnya yaitu timur tengah atau pondok. Factor hidayah, factor eksternal juga contohnya ada ancaman. Jadi, tidak karena dia kebanyakan Ilmu. Justru seorang pendakwah mengetahui bahwa islam mengajrkan agar umatnya selalu menuntut ilmu. Dan harusnya dia juga tahu ada surat yang berbunyi “Sesungguhnya orang yang paling takut kepada Allah adalah ulama” sedangkan dia menajdi dai yang beberapa puluh tahun juga akan menajdi seorang ulama, harusnya dia bisa mempertahankan aqidahnya jika dia benar-benar paham akan Islam. Apakah Allah tega membiarkannya? Tentu tidak, Allah sudah member peringatan melalui ilmu-ilmu yang sudah ia kuasai, harusnya dia paham namun dia tetap ngeyel sehingga Allah hanya sebatas mengijinkannya (sak karepmu). Kalau sudah seperti itu kan resiko ditanggung yang ngeyel kan? Wallahualam. Semoga bapak tadi segera mendapat hidayahnya lagi, segera kembali ke jalan Allah. Amiin 

*ada lanjutan dari tak mengenal maka tak tahu jalan pikirannya 

Mari fokus pada KELEBIHAN kita masing-masing :)

Sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu ada manfaatnya, ada kelebihannya. Begitu juga manusia. Kelebihan dan kekurangan merupakan sesuatau yang harus diolah menjadi suatu kelebihan. Karena Allah tidak pernah salah menciptakan segala sesuatu. Nah, kemarin saya mendengarkan sebuah talkshow di salah satu stasiun TV yang dibintangi oleh Ust. Felix, Oki Setiana Dewi dan bintang tamunya. Acara kali itu bertemakan FOKUSLAH PADA KELEBIHAN BUKAN PADA KEKURANGAN. Mengapa saya mau mempublish tulisan ini? Ya, karena setiap mansia tidak pernah puas, tidak mudah percaya diri, jadi kebanyakan mereka menganggap kekurangan sebuah aib, kelebihan pun tak bias ditonjolkan karena kurang berani. Saya ingin menyemangati diri saya sendiri dan teman2 saya seta orang2 yang ada disekitar saya bahwa kita bias. Kita mampu. Kita tidak boleh minder! Diacara ini dipaparkan bahwa kekurangan dan kelebihan merupakan suatu cirri khas. Jadi, itu merupakan sebuah kelebihan untuk membedakan satu orang ke orang yang lain. So, Allah Maha Adil kan? Misal saja ada orang yang tuna netra, Allah member anugrah kepada orang itu agar terhindar dari dosa melihat serta Allah member kelebihan di area otaknya pada bagian meraba. Ya memang pantas jika kebanyakan tuna netra memang jago memijat, karena area peraba pada otak meluas. Subhanallah.. Biasanya orang yang mempunyai cirri khas fisik seperti ini, dia jago dalam suatu bidang yang tidak kita sangka. Contohnya saja @ramaditya, narasumber diacara ini, beliau mampu menyelesaikan kuliahnya dan ahli dalam bida IT. Wuuuiss siapa sangka yaa? Inilah yang membedakan antara kita dan mereka. Mereka mempunyai semangat untuk berkarya. Padahal kita sama2 manusia, sama2 makhluk ciptaanNya, masak iya kita mau kalah semangatnya dari mereka. Mari kita kobarkan semangat kita untuk focus pada kelebihan kita sehingga kita bias berkarya, berkarya untuk Islam dan Indonesia. Memberi kontribusi yang baik kepada agama dan Negara kita. Semoga setiap harinya makin banyak orang yang sadar dan bias berkarya, bias menunjukkan sisi kelebihannya. Tapi ingat loooh tidak boleh sombong. Karena semua Ini adalah pemberian dari Allah. Tanda izin dari Nya kita tak ada artinya. Mari luruskan niat agar bias ikut membawa nama Islam dimanapun kita berada J

Tak Mengenal Maka Tak Tahu Jalan Pikirannya

Kemarin saya sempat mengobrol dengan teman dan kakak tingkat saya mengenai pandangan politik dan berujung dengan pembicaraan mengenai agama. Saya sedikit kaget karena diskusi ini semakin mengarah ke “mengkritisi” Allah. Dalam hati saya sudah menolak untuk mendengarkan semua perkataan yang mereka lontarkan. Namun ada keuntungannya juga, jadi saya tahu bagaimana pola piker rekan-rekan saya. Salah satu dari mereka bercerita bahwa dia memiliki seorang teman, sebut saja si S. Si S mempunyai seorang ayah yang sangat menguasai ilmu agama dan ayah tersebut berprofesi sebagai pendakwah. Katanya, dakwah si ayah ini sudah me-nusantara. Dari sabang hingga merauke beliau dakwahi hingga suatu saat bertemu dengan seseorang atau sekelompok organisasi dan beliau sekrang menjadi MISIONARIS. Iya MISIONARIS! Bayangkan betapa kagetnya orang-orang disekitarnya. Naudzubillahimindzalik L . Nah, target ayah tadi adalah mengkaderkan si S untuk menjadi pemuda misionaris. Tetapi, orang-orang diskeitarnya melindunginya dari serangan si ayah tadi. Dari cerita tersebut temen saya yang bercerita tadi berkata, “Apakah Tuhan tega membiarkannya? Apakah Tuhan adil?” huh! Saya yang mendengar perkataan tersebut panas. Ya jelas lah itu bukan salah Allah , kata ku dalam hati. Saya belum berani membantah karena belum memiliki dasar yang kuat. Saya bertekad akan membawa pertanyaan ini kedalam forum leadership di hari minggu. Huaaaaa!! Siapa coba yang gak marah jika Tuhannya disalahkan!

Senin, 12 Mei 2014

Pandanganku tentang HOMEOSTASIS

Allah sunggu Maha Agung... sangat detail dalam menciptakan segala ciptaanNya yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah sel, iya sel yang menyusun seluruh makhluk hidup.. sel dalam organisme multiseluler dilindungi oleh sebuah cairan, dan cairan tersebut melindunginya dari perubahan lingkungan, dinamis, menjaga kestabilan. Nah itulah sistem homeostasis à keseimbangan J. Coba bayangkan jika tidak diciptakannya cairan tersebut, maka tidak ada keseimbangan, maka pula menimbulkan ketidak teraturan. Begitu juga dengan hidup. Allah sudah mengatur sedemikian rupa agar hambaNya dapat hidup teratur dan patuh,tinggal kitanya saja bagaimana mensikapi apa yg telah diberikan oleh Allah. Allah saja selalu mendengarkan segala keluh kesah kita setiap detik, padahal Allah punya banyak ciptaan, punya banyak urusan. Dan Allah pun pasti memberi solusi terhadap apa saja yang telah kita keluhkan. Nah, apakah kontribusi yang kita lakukan sudah setimpal dengan apa yg telah Allah berikan? Allah hanya menyuruh untuk menyembahNya (dalam arti luas), Allah tidak menyuruk yg “neko-neko”. Ayo kita renungkan dan kita berubah menjadi pribadi yg lebih baik J Lets do the best, do a good direction, Just to Allah J

-sekian-

Sabtu, 10 Mei 2014

curcolan skill :))


Hari ini, Sabtu, 10 Mei 2014 saya habis curcol sambil kontrol ke drg. Barkah.. Saya bercerita apakah mengukir dang menggambar gigi akan berpengaruh saat saya menjalani profesi kelak.. kata beliau, tidak berpengaruh, paling ya pengaruhnya dikit, Cuma pas besok bikin mahkota gigi, menambal gigi *doang* nah padahal itu semua merupakan dasar jd drg. Seketika langsung drop, berasa bodo skill gue niiih *nangis di hati*. Beliau juga bilang klo kuliah di kedokteran tuh yang penting skill nya! 40% teori sisanya skill? Nah skill gue gimana niih? Berasa kurang bangeet, kurang terampil, kurang kreatif????????? Klo dokter umum kan presentasinya terbalik. Mereka gak butuh skill, otak meen!!!
Lagi pula ya klo kerjaan bikin gii tiruan dan bikin bahan tambalan kan bisa dilakukan sama perawat gigi *ketawa jahat* *sedikit lega* nah sekarang tugas gue adalaha untuk mensugesti diri gue sendiri dan terus berusaha. Menurut gue, skill juga bisa dilatih kok J oke fix! Semangat gue harus kembali membara!!!
Oh ya td kata drg gue, belajar di kedokteran gigi tuh ibarat penuh tetes air mata dan darah! Wow!  Horor meeen!!

-sekian-